|
|
 |
|
Pengumuman |
Puskesmas / Bidang menyiapkan atau memberikan informasi kesehatan dan kegiatan di puskesmas maupun bidang yang layak untuk dipublikasikan ke Website ini melalui Seksi Datin (Data dan Informasi) Bidang IPK Dinkes Sijunjung. |
|
|
|
|
|
|
Advokasi dan Sosialisasi Eliminasi Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) di Kabupaten Sijunjung |
|
|
|
|
Filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dari kelompok nematoda yaitu wucheria brancofti, brugia malayi dan brugia timori. Cacing dewasa (betina) akan menghasilkan larva (mikrofilaria) yang akan bermigrasi ke dalam sistem peredaran darah, hidup dan merusak saluran getah bening sehingga mengakibatkan cairan getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik dan menyebabkan pembengkakan pada tungkai, lengan serta bagian tubuh lainnya. Cacing ini mampu bertahan hidup selama 5-7 tahun didalam kelenjar getah bening.
Penyakit ini tersebar luas terutama dipedesaan, dapat menyerang semua golongan umur baik anak-anak maupun dewasa, laki-laki dan perempuan. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit didaerah tropis dan sub tropis yang sebelumnya terabaikan. Mengingat penyebarannya yang sangat luas di Indonesia, maka bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kecacatan dan stigma psikososial yang berdampak pada penurunan produktivitas penderita, beban keluarga dan kerugian ekonomi yang besar bagi negara. Oleh karena itu penyakit kaki gajah ini telah menjadi salah satu penyakit menular yang diprioritaskan untuk dieliminasi sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor : 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009.
Program ini diupayakan sampai dengan tahun 2020, dilakukan dengan bertahap lima tahunan yang dimulai tahun 2010-2014, untuk tahun 2012 diprioritaskan akselerasi program ini diwilayah Pulau Sumatera termasuk Kabupaten Sijunjung, yang dilaksanakan pada tanggal 03 April 2012 bertempat di Balairung Lansek Manih. Pertemuan dihadiri oleh Bupati Sijunjung Yuswir Arifin dan Ketua DPRD Kabupaten Sijunjung yang diwakili oleh Ketua Umum Komisi III Asriben, disamping itu juga dihadiri oleh MUSPIDA, Kepala SKPD, Camat dan Kepala Puskesmas se-Kabupaten Sijunjung.
Pertemuan advokasi dan sosialisasi eliminasi filariasis (penyakit kaki gajah) ini didanai oleh USAID, dengan narasumber berasal dari pusat yaitu dari Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Subdit Filariasis dan Schistomiasis yang diwakili ibu Chairiyah Anwar, SKM, M.Kes dan Konsultan USAID Prof. dr. Ascobat Gani, MPH, serta dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat dr. Kartika Aulia Sari. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung yang diwakili oleh dr. Yasril Syahnil, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) disampaikan bahwa filariasis atau penyakit kaki gajah ditemukan di Kabupaten Sijunjung dalam data kurun waktu 3 tahun terakhir tercatat 8 orang dengan penyebaran wilayah di Kecamatan Sijunjung terdapat 2 kasus (2009), Kecamatan Koto VII 1 kasus (2010) dan pada Kecamatan Lubuk Tarok ditemukan 5 kasus (2011).
|
|
|

Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung telah melaksanakan Sosialisasi Juru pemantau Jentik (Jumantik) pada tanggal 01 November 2011 di Hotel Sahid Bukik Gadang Muaro Sijunjung untuk kader Kenagarian Muaro sebanyak 20 orang.
Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak bisa dihentikan hanya dengan penyemprotan tetapi dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dapat dilakukan oleh kader Jumantik. Jumantik adalah singkatan dari juru pemantau jentik yaitu petugas khusus yang berasal dari lingkungan sekitar secara suka rela mau bertanggung jawab untuk melakukan pemantauan jentik DBD Aedes Aegypti di wilayahnya serta melakukan pelaporan ke puskesmas secara rutin dan berkesinambungan.
Kegiatan Jumantik sangat perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat agar dapat secara mandiri dan sadar dan peduli dalam membersihkan sarang nyamuk dan membasmi jentik nyamuk Aedes Aegypti.
Kegiatan/tugas Jumantik adalah Memantau/mengamati tempat penampungan air dan tempat yang dapat tergenang air bersih apakah ada jentik dan apakah sudah tertutup rapat. Untuk tempat air yang sulit di kuras diberi bubuk larvasida seperti Abate. Jika ditemukan jentik nyamuk maka Jumantik berhak memberi tahu/peringatan kepada penghuni/pemilik untuk membersihkan/menguras agar bersih dari jentik.
Peran serta masyarakat sangat pentingdalam menanggulangi DBD, salah satunya adalah kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang dilakukan oleh masyarakat melalui juru pemantau jentik (Jumantik) sehingga Angka Bebas Jentik (ABJ) meningkat dari rata-rata 30% saat ini menjadi 90%.
|
|
BHAKTI PNS DINAS KESEHATAN DALAM RANGKA BEDAH JORONG DI SUNGAI DUO NAGARI AIA ANGEK KECAMATAN SIJUNJUNG |
|
Bakti PNS yang dicanangkan oleh Bupati Sijunjung di Jorong Sungai Duo Nagari Aie Angek dengan kegiatan Bedah jorong atau membangun pemukiman yang lebih layak. Dari 29 (dua puluh sembilan unit rumah yang dibangun salah salah satunya merupakan tanggungjawab dari SKPD Dinas Kesehatan. Rumah yang menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan tersebut adalah Rumah dengan nomor urut 9 atas nama pemilik "Sijon". Pada gambar diatas terlihat staf Dinas Kesehatan Kesehatan melakukan kerja bakti untuk membangun rumah di Jorong Sungai Duo tersebut dengan penuh semangat walau dengan berbagai kendala seperti masih minimnya pasokan bahan material di lapangan.
Disamping rumah, juga dibangun berbagai sarana dan prasarana. Diantaranya mushalla, merigid beton jalan lingkar sepanjang 215 meter, padat karya infrastruktur, jaringan air bersih.
|
|
|
MOVE TOWARD UNIVERSAL COVERAGE KABUPATEN SIJUNJUNG |
|
|
|
|
Asimetris informasi merupakan salah satu faktor peningkatan biaya kesehatan menjadi mahal, dimana informasi yang dipunyai pelanggan atau pasien tidak sama dengan pelaku pemberi pelayanan kesehatan dalam hal ini tenaga medis. Sering kita dengar dan kita lihat, kemungkinan juga kita pernah merasakan bahwa ketika seseorang berobat apakah itu ke rumah sakit, klinik bersalin/rumah sakit bersalin, balai pengobatan atau praktik dokter pasien selalu akan pasrah apa yang dikatakan dokternya dan akan selalu akan mengikuti apa yang dianjurkan oleh dokter, karena pasien telah menganggap dokter tempat orang yang diharapkan untuk dapat menolong menyembuhkannya. Jika dokternya baik dan professional maka pasien akan sembuh dan tidak terbebani oleh biaya berobat yang mahal, tetapi jika dokternya tidak baik maka ia akan sembuh dan terbebani biaya berobat yang mahal.
Ilsutrasi “Ketika seorang ibu masuk ke toko pakaian maka si ibu akan malihat harga pakaian yang tertera pada setiap baju yang terpajang serta dapat langsung meraba bahan dan melihat kualitas dari baju tersebut apakah pantas dengan harga yang tertera. Tetapi ketika ibu tersebut datang ke praktek dokter untuk memeriksakan kehamilannya maka si Ibu tidak tahu apakah semua pemeriksaan atau tindakan yang dilakukan oleh dokter apakah memang perlu untuk si Ibu atau tidak, Ini sangat tergantung kepada dokter. Jika terjadi “Supply Induced Demand” yaitu kebutuhan yang yang diberikan oleh dokter dan biasa ini tidak penting bagi pasien atau sebaliknya “Costumer Induced Demand” yaitu kebutuhan yang diminta oleh pasien, biasa ini kadang-kadang tidak perlu bagi pasien akan tetapi karena trend biasanya pasien akan minta pada dokter, hal ini mengakibatkan biaya kesehatan akan mahal. Disamping asismetri informasi tersebut masih ada faktor lain yang menyebabkan biaya kesehatan makin mahal yaitu pergeseran demografi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk usia tua, perubahan pola penyakit, peningkatan pendapatan dan pendidikan serta perkembangan teknologi kodokteranakan memberi beban yang lebih besar terhadap pembiayaan kesehatan. Jaminan Kesehatan merupakan solusi jawaban terhadap Reformasi Pembiayaan Kesehatan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung telah memberikan jaminan kesehatan terhadap seluruh masyarakat agar dapat akses terhadap pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan dasar. Program jaminan kesehatan yang ada di Kabupaten Sijunjung yaitu : 1) Program Jamkesmas : program pemerintah pusat untuk masyarakat tidak mampu dengan kuota peserta 52.702 jiwa, program ini didanai oleh APBN untuk menjamin biaya berobat peserta mulai dari puskesmas sampai dengan rujukan ke rumah sakit vertical, 2) Jamkesda : program ini diperuntukan bagi kelompok masyarakat sadikin (sakit sedikit miskin) dengan jumlah peserta 10.752, program ini ini didanai secara bersama antara pemerintah Propinsi Sumatera Barat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung, program Jamkesda di Sijunjung diselenggarakan oleh Bapel PT Sanjung Husada Mandiri (PT.SHM), disamping peserta penerima bantuan iuran (PBI) PT.SHM juga menarik peserta mandiri dengan program Jasmkesda Mandiri dengan jumlah peserta 511 orang, 3) Khusus untuk masyarakat yang belum mempunyai jaminan kesehatan (Jamkesmas, Jamkesda, PT.Askes, Jamsostek, Asabri) maka Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung menyelenggarakan Program Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis di Puskesmas dan Jaringannya, masyarakat dalam hal ini juga penerima bantuan iuran, masyarakat tidak membayar berobat di puskesmas dan Jaringannya dan kepada puskesmas diberikan dana kapitasi, diharapkan dengan ada dana kapitasi puskesmas dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.
|
|
PERINGATAN ULANG TAHUN IBI KE 60 DAN BAKTI SOSIAL IBI KB –KESEHATAN TINGKAT KABUPATEN SIJUNJUNG 2011 |
|
Thursday, 09 June 2011 07:33 |
|
Sebagaimana tahun –tahun sebelumnya IBI selalu melaksanakan kegiatan Bakti Sosial IBI kepada masyarakat, yang merupakan agenda rutin dari peringatan hari ulang tahun Ikatan Bidan Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Ikatan Bidan Indonesia Cabang Sijunjung untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di masyarakat Kabupaten Sijunjung khususnya. Kontribusi Bidan sangat besar terutama di tingkat pelayanan primer dan sekunder untuk menurunkan Angka Kematian IBu dan Anak (AKI / AKB) . Kegiatan Bakti Sosial IBI dicanangkan di Bidan Praktek Swasta (BPS) yang menjadi BPS terbaik tahun ini yaitu BPS Bidan Resmita Amd.Keb, yang beralamat di Jl Pasar Sijunjung. Kegiatan dihadiri oleh pengurus IBI Cabang bersama seluruh anggota dari 10 ranting IBI yang berada di seluruh kecamatan Se Kabupaten Sijunjung.
Undangan yang terdiri dari Bapak Wakil Bupati, Ketua DPRD Sijunjung, Asisten 3 ( beserta jajarannya), Kabag Kesra, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB , Ketua Forsikes, Camat Sijunjung, Wali Nagari Sijunjung, Wali Jorong, Kader Posyandu, dan Tokoh masyarakat lainnya. Sebagai fasilitator pencanangan adalah Tim Monitoring Bakti Sosial IBI KB-Kesehatan dari Propinsi Sumatera Barat, yang terdiri dari Pengurus Daerah IBI Propinsi Sumatera Barat yang dihadiri oleh Wakil Ketua IBI yaitu Ibu Risnawati dengan anggota, Bapak Kepala BKKBN Sumatera Barat beserta rombongan dan Bapak kepala kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB dengan jajarannya.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|